Monday, March 12, 2018

4 Pilar Gizi Seimbang Menurut Depkes RI

Indonesia sudah mengimplementasikan pedoman gizi seimbang pada tahun 1995, dimana hal tersebut merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di Roma. Pedoman gizi menggunakan "4 sehat 5 sempurna" sudah tidak digunakan lagi karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu saat ini pemerintah menggunakan Pedoman Gizi Seimbang sebagai acuan pemenuhan gizi masyarakat di Indonesia.

4 Pilar Gizi Seimbang Menurut Depkes RI

Pengaturan kebutuhan gizi di Indonesia dengan Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 pilar yang merupakan dasar untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur. Berikut ini adalah penjelasan 4 Pilar Gizi Seimbang menurut Depkes RI.

1. Mengonsumsi makanan beragam


Tidak ada makanan yang memiliki semua zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh kecuali ASI (Air Susu Ibu). ASI adalah makanan yang sangat sempurna untuk kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan agar tumbuh sehat, ASI memiliki semua kandungan gizi yang dibutuhkan oleh bayi sehingga pada usia dibawah 6 bulan bayi hanya perlu mengkonsumsi ASI.

Namun bila sudah lebih dari 6 bulan bayi memerlukan makanan tambahan karena kebutuhan gizi bayi sudah berubah. Kandungan gizi pada setiap makanan berbeda-beda, untuk itu mengapa dianjurkan mengkonsumsi makanan yang beragam. Nasi kaya akan kalori tetapi sedikit mengandung vitamin dan mineral, sebaliknya sayuran dan buah kaya akan vitamin dan mineral tapi rendah kalori.

Apakah mengonsumsi makanan beragam tanpa memperhatikan jumlah dan proporsinya sudah benar? Tidak.

Walaupun dianjurkan mengkonsumsi makanan yang beragam bukan berarti bebas mengkonsumsi semua jenis makanan tanpa memperhatikan jumlah dan proporsi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Beranekaragam dalam mengkonsumsi makanan selain keanekaragaman jenis pangan juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah
yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur.

Anjuran pola makan dalam beberapa dekade terakhir telah memperhitungkan proporsi setiap
kelompok pangan sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya. Contohnya, saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah makanan yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan resiko beberapa PTM, dianjurkan untuk dikurangi. Mengkonsumsi air putih dalam jumlah yang cukup juga telah dimasukkan dalam komponen gizi seimbang oleh karena pentingnya air dalam proses metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi.
Baca juga: Pentingnya Mengatur Pola Makan bagi Penderita PTM

2. Membiasakan perilaku hidup bersih


Gizi seimbang sangat erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih, dengan membiasakan perilaku hidup bersih akan menghindarkan seseorang dari paparan sumber infeksi dimana infeksi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status gizi seseorang secara langsung, terutama anak-anak.

Seseorang yang mengalami infeksi akan terjadi penurunan nafsu makan sehingga akan mempengaruhi jumlah zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Sebaliknya pada keadaan infeksi, tubuh membutuhkan zat gizi yang lebih banyak untuk memenuhi peningkatan metabolisme pada orang yang menderita infeksi terutama apabila disertai panas.

Orang yang diare, berarti mengalami kehilangan zat gizi dan cairan secara langsung akan memperburuk kondisinya. Demikian pula sebaliknya, orang yang kurang gizi akan mempunyai risiko terkena penyakit infeksi karena pada keadaan kurang gizi daya tahan tubuh akan seseorang menurun, sehingga kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa kurang gizi dan penyakit infeksi adalah hubungan timbal balik.

Contoh perilaku hidup bersih yang harus dilakukan
  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum makan, sebelum memberikan ASI, sebelum menyiapkan makanan dan minuman, dan setelah buang air besar dan kecil. Mencuci tangan akan menghindarkan terkontaminasinya tangan dan makanan dari kuman penyakit seperti kuman penyakit typus dan disentri.
  • Menutup makanan yang disajikan agar tidak dihinggapi lalat dan binatang lainnya serta debu yang membawa berbagai kuman penyakit. 
  • Menutup mulut dan hidung bila bersin, sehingga tidak menyebarkan kuman penyakit kepada orang lain.
  • Menggunakan alas kaki agar terhindar dari cacingan.

3. Melakukan aktivitas fisik


Aktivitas fisik akan memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh, termasuk juga metabolisme zat gizi. Oleh karena itu, aktivitas fisik memiliki peran penting untuk menyeimbangkan zat gizi yang keluar dari dan yang masuk ke dalam tubuh. Aktivitas fisik termasuk segala kegiatan tubuh termasuk juga olah raga.
Baca juga: Aktivitas Fisik Dapat Mencegah Kematian di Usia Muda

4. Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) normal


Terjadinya keseimbangan zat gizi pada orang dewasa dapat dilihat dari tercapainya berat badan yang normal, yang sesuai dengan tinggi badan. Indikator untuk memantau berat badan adalah Indeks Masa Tubuh (IMT). Pemantauan berat badan normal merupakan hal wajib dari 'Pola Hidup dengan "Gizi Seimbang", sehingga berat badan normal dapat terkontrol.
Baca juga: Cara Menghitung Indeks Masa Tubuh

Untuk balita dan bayi, indikator yang digunakan adalah perkembangan berat badan sesuai dengan pertambahan umur. Pemantauan berat badan bayi dan balita dilakukan dengan mengunakan Kartu Menuju Sehat (KMS).

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon