Kamis, 13 Juni 2019

Kata Bijak Politik Mata Najwa

gambar: trans7.co.id

Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan acara televisi Mata Najwa, di acara tersebut sering membahas berbagai isu yang sedang hangat di masyarakat, salah satu tema yang banyak di ambil adalah "POLITIK".

Dibawakan oleh Najwa Shihab yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam menggali informasi dari para narasumber membuat acara "Mata Najwa" banyak ditonton oleh masyarakat. Di dalam acara tersebut ada bagian yang cukup menarik, yaitu Najwa Shihab membacakan kata-kata bijak sebagai pesan dan rangkuman dari acara tersebut.

Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian I


"Karena kekecewaan inheren dalam demokrasi, amat penting berpolitik dalam bingkai konstitusi."

"Elit harus menahan diri, warga berhenti caci maki, aparat tak boleh gampang merepresi."

"Agar tata tidak dengan gampang porak poranda, karena proses politik yang memantik kecewa."

"Bukankah melelahkan jika transisi memakan korban, mengapa banyak episode kelam tak jadi pelajaran."

"Jika memang ada pihak ketiga yang terlibat, negara harus benar-benar serius menjerat."

"Agar menjadi jelas segala macam duduk perkara, jangan tambah daftar kasus yang gelap terlunta-lunta."

"Kita berutang kepada masa depan, jika tak sanggup mengungkap sang dalang."

"Kejahatan jangan sampai jadi alat tukar, hanya untuk meredakan segala tengkar."

Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian II


Tak gampang kelola ratusan juta suara anak negeri, apalagi di tengah atmosfer yang sarat polarisasi.

Setiap detail kecil kesalahan bisa dibesar-besarkan, satu sama lain gigih mengungkap kesalahan lawan.

Saat berbagai syak wasangka merajalela, hulu ledak semakin tampak di depan mata.

Sayang para elit kepayahan menahan diri, yang berujung pada kerusuhan bulan Mei ini.

Tragedi kini sudah terlanjur terjadi, siapa dalang yang memimpin operasi?

Baca juga: Kata Mutiara Najwa Shihab Paling Inspirasional

Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian III


"Semua harus dimintai pertanggungjawaban, tak ada elit yang boleh buang badan."

"Tiap kubu harus turun menjemput perdamaian, tak bisa lagi sekadar membuat himbauan."

"Masih ada ruang untuk memakai akal, jangan sampai yang tersisa hanyalah sesal."

"Oleh pertarungan yang kelewat brutal, demi meraih ambisi elektoral."

"Politik harus mengenal batas, agar para aktornya tak menjadi buas."

"Kemenangan dan kekalahan mestinya bisa dijelaskan, agar seluruh proses politik bisa jadi pelajaran."

"Kembali ke konstitusi untuk tuntaskan sengketa, tak ada menang kalah yang seharga persatuan bangsa."

Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian IV


"Demokrasi menjamin kebebasan berbicara, setiap orang jelas berhak bersuara."

"Ruang publik hakikatnya arena kontestasi, untuk menjadi pemenang perebutan opini."

"Kita semua yang akan menjadi makin cerdas, saat ruang publik disesaki argumen bernas."

"Tapi lebih mudah menciptakan insinuasi, menjejali publik dengan polusi agitasi."

"Yang menggejala adalah kuat-kuatan berteriak, perang yang baru kelar saat semua kadung serak."

"Argumentasi menjadi tidak berarti lagi, semua suara akhirnya lindap menuju mati."

"Akhirnya semua terbiasa dengan adu kekuatan, adu lantang menjelma rimba raya perkelahian."

"Takkan ada lagi yang namanya demokrasi, ketika hukum tak diindahkan lagi."

Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian V


"Pelaksanaan demokrasi memang tidak sederhana, banyak tahapan dan rincian yang sarat tata cara."

"Namanya juga melibatkan partisipasi jutaan warga, pasti menyita harga ekstra dan tenaga luar biasa."

"Ribuan petugas bekerja menembus medan yang berat, begadang berhari-hari dalam rekap yang berlarat-larat."

"Tetap saja kematian ratusan tak bisa ditolerir, sistem yang tumbalkan nyawa tak layak diakomodir."

"Para petugas adalah warga yang harus dilindungi, mereka layak diapresiasi dan bukannya malah mati."

"Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, agar lima tahun lagi tidak ada yang terbunuh."

"Tak perlu ragu untuk mencari format alternatif, asal jangan dipakai demi motif politik yg sempit."

"Bukankah demokrasi untuk melindungi sang warga, tak boleh ada lagi pemilu yang merenggut nyawa."


Kata Bijak Politik Mata Najwa Bagian VI


"Pemilu serentak pertama telah dilewati, hampir dua ratus juta warga berpartisipasi."

"Kertas yang diisi dan dihitung sampai lima buah, bekerja untuk Pemilu ini jadi amat lelah."

"Belum lagi kondisi geografis negeri yang begitu beragam, medan yang berat kerap menyulitkan pergerakan."

"Di tengah tekanan para pendukung kontestan, petugas pemilu bekerja dalam kecemasan."

"Ratusan petugas akhirnya meninggal dunia, menjadi korban demi menjaga setiap suara."

"Siapa yang pantas diminta pertanggungjawaban, masih layakkah Pemilu serentak dipertahankan?"


EmoticonEmoticon