Selasa, 24 Maret 2020

7 Sumber Kekuatan Luar Biasa Proses Berpikir


ydhartono.com - Tujuh sumber kekuatan luar biasa pada proses berpikir dan menjadi referensi bagi akal yang digunakan setiap orang, entah disadari atau tidak. Ketujuh faktor ini memiliki pengaruh yang besar bagi setiap orang.

Jadi proses berpikir kita dibentuk oleh hal-hal seperti di bawah ini, tentu saja dengan mengetahui hal ini kita dapat lebih berhati-hati dalam bertindak dan bersikap sehingga dapat berakibat pada proses berpikir yang benar (disarikan dari "Terapi Berpikir Positif" karya Dr. Ibrahim elfiky)

1. Orangtua


Proses berpikir yang pertama kita dapatkan dari orangtua. Dari orangtua kita belajar kata-kata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, perilaku, norma, keyakinan, agama, prinsip, dan nilai-nilai luhur. Itulah proses berpikir yang pertama di dunia ini. Proses ini kemudian mengakar dalam diri lalu menjadi referensi utama dalam berinteraksi dengan diri sendiri atau dengan dunia luar.

Sebagai contoh, orang yang tinggal berpindah-pindah, tidak ngekos melainkan numpang. Keluarga yang ditumpangi memiliki background yang berbeda-beda, dan ternyata ini sangat berpengaruh sekali terhadap proses berpikir anaknya.

Contoh kecil, jika anak salah bagaimana respon orang tua, apakah marah-marah? apakah memberi hukuman sesuai kesalahannya? terus bagaimana jika yang salah orang tua, apakah mengakui kesalahan dan meminta maaf? atau malah anak yang disalahkan.

2. Keluarga


Saudara laki-laki, saudara perempuan, kakek, nenek, paman, bibi, dan anak-anak mereka. Dari mereka akal menangkap informasi baru dan menggabungkannya dengan informasi yang telah ada. Dengan demikian, proses pembentukan pikiran semakin kuat.

Jadi bukan hanya orang tua, tetapi anggota keluarga lainnya juga memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk proses berpikir seseorang.

3. Masyarakat


Tetangga, tukang sayur, sopir taksi, dan semua orang yang tinggal di lingkungan kita. Akal akan terus mengikat informasi yang di dapat dari luar dan disatukan dengan informasi yang sudah tersimpan di alam bawah sadar. Dengan begitu, proses pembentukan pikiran semakin kuat.

Sesuatu yang diluar keluarga sifatnya hanya sebagai penguat atau pelemah karakter yang terbentuk di dalam keluarga. 

4. Sekolah


Ucapan, perilaku, dan sikap para guru atau pengelola sekolah memiliki pengaruh cukup besar dalam proses pembelajaran. Maka kita akan dengan mudah meniru apa yang ada di sekolah, baik yang positif maupun negatif. Semua itu memperkaya proses pembentukan pola pikir yang sudah ada sehingga menjadi semakin kuat di alam bawah sadar.

Bentuk aplikasi pendidikan dalam keluarga paling banyak di dunia sekolah. Namun sayang sekali, dunia sekolah saat ini kurang memperhatikan tentang karakter. Lebih pada kemampuan otak, oleh sebab itu jangan heran jika orang yang dulu dianggap biasa-biasa saja di sekolah bahkan bodoh bisa sukses kehidupannya. Dia boleh bodoh tentang pelajaran, tetapi sebenarnya dia tidak bodoh secara karakter.

5. Teman


Teman itu paling penting setelah orangtua. Berteman merupakan aktualisasi diri pertama dalam kehidupan karena kita sendiri yang menentukan pilihan, tanpa pengaruh orangtua. Sangat mungkin kita belajar perilaku negatif dari teman, seperti merokok, mengkonsumsi narkoba, alkohol, dan bolos sekolah. Semua itu mempengaruhi proses pembentukan pikiran kita.

Teman bisa mempengaruhi, namun yang saya kurang setuju banyak masyarakat yang menganggap pergaulan anaknya salah sehingga anaknya nakal. Padahal kebanyakan anak yang nakal bukan di dapat dari temannya tetapi dari lingkungan keluarga, terutama orang tua.

Anak kita jadi nakal karena bergaul sama anaknya si itu? Biasanya orang tua banyak kayak gini nih. Harusnya orang tua berkaca, apakah sudah memberikan contoh yang benar kepada anak sendiri, jangan menyalahkan anak orang lain.

6. Media Massa


Sebagian remaja menonton televisi hingga lima puluh jam dalam seminggu. Mereka akan terpengaruh oleh apa yang mereka tonton, positif atau negatif. Jika mereka melihat artis atau penyanyi idola mereka merokok, besar kemungkinan mereka ikut merokok.

7. Diri Sendiri


Sekian sumber eksternal turut memperkuat terbentuknya pikiran. Pikiran itu kemudian membentuk keyakinan dan prinsip yang kuat. Selanjutnya kita menambahkan sikap baru yang positif atau negatif. Akal menggabungkan sikap baru itu dengan data-data sebelumnya sehingga proses pembentukan pikiran semakin kuat dan mendalam. Dengan demikian kita mampu beradaptasi dalam menghadapi dunia luar.

Kalau ini mah sudah jadi karakter, oleh karena itu kita harus belajar dan belajar. Belajar disini bukan seperti belajar di sekolah ya.. yang hanya membaca, menghafal dan mengerjakan soal. Belajar disini adalah mengambil pelajaran baru dari setiap masalah dan mencari solusi terbaik atas masalah yang ada.


EmoticonEmoticon