Saturday, April 14, 2018

Bagaimana Cara Penularan dan Pencegahan Hepatitis B ?

Bagaimana Cara Penularan dan Pencegahan Hepatitis B ?

Hepatitis B adalah peradangan pada hati yang disebabkan virus hepatitis B yang bersifat akut dan kronis.

Virus Hepatitis B dapat ditemukan dalam cairan tubuh penderita, seperti darah dan produk darah, air liur, cairan serebrospinal, peritoneal, pleural, cairan amniotik, semen (air mani), cairan vagina dan cairan tubuh lainnya. Namun tidak semuanya memiliki kadar virus yang infeksius.

Cara Penularan Hepatitis B


Secara umum, penularan bisa terjadi secara vertikal dan horizontal.

Penularan secara vertikal adalah penularan yang terjadi pada masa perinatal, yaitu penularan dari ibu kepada bayi. Jika seorang ibu hamil karier Hepatitis B dan HBeAg positif, maka kemungkinan 90% bayi yang dilahirkan akan terinfeksi dan menjadi karier iuga.

Penularan horizontal adalah penularan dari satu individu ke individu lainnya. Selain melalui hubungan seksual tidak aman, penularan horizontal juga bisa terjadi lewat penggunaan jarum suntik bekas penderita Hepatitis B, transfusi darah yang terkontaminasi virus Hepatitis B, proses pembuatan tato, penggunaan pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku bekas penderita Hepatitis B.

Berpelukan, berjabatan tangan, atau berciuman dengan penderita Hepatitis B belum terbukti dapat menularkan virus ini.

Sampai saat ini, penularan HBV terutama diduga berasal dari hubungan intim dan transmisi perinatal.

Gejala awal Hepatitis B pada umumnya, yaitu cepat lelah, kurang nafsu makan, mual, muntah, dan nyeri sendi.

Gejala ini akan membaik ketika terjadi peradangan hati yang umumnya ditandai dengan gejala kuning, namun 70% penderita hepatitis akut ternyata tidak menunjukkan gejala kuning tersebut.

Sebagian penderita hepatitis B akut dapat sembuh spontan, sebagian lagi berkembang menjadi hepatitis B kronik. Kemungkinan menjadi hepatitis B kronik menurun dengan bertambahnya usia saat terinfeksi, yaitu mencapai 90% pada neonatus dan 5% pada usia dewasa. Hepatitis kronik umumnya tidak menimbulkan gejala.

Masa inkubasi VHB berkisar antara 30-180 hari dengan rata-rata 60-90 hari.

Diagnosis Hepatitis B berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Pencegahan Hepatitis B


Pencegahan Hepatitis 8 dapat dilakukan secara non-spesifik dan spesifik.

Pencegahan Non-spesifik

Pencegahan non-spesifik dilakukan dengan menerapkan kewaspadaan universal dan deteksi dini pada kelompok berisiko tinggi, seperti penggunaan sarung tangan ketika bekerja melibatkan cairan tubuh penderita, penanganan limbah jarum suntik yang benar, sterilisasi alat, dan mencuci tangan sebelum menangani penderita dapat mengurangi risiko penularan terutama pada tenaga medis/paramedis.

Untuk memutus rantai penularan, perlu disampaikan kepada penderita Hepatitis B hal-hal sebagai berikut :
  • Memberikan imunisasi pada pasangan seksual
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan yang belum diimunisasi
  • Tidak bertukar sikat gigi ataupun pisau cukur
  • Menutup luka yang terbuka agar darah tidak kontak dengan orang lain
  • Tidak mendonorkan darah, organ, ataupun sperma.

Pencegahan Spesifik

Pencegahan spesifik dilakukan dengan memberikan perlindungan khusus (specific protection).

Bagi orang yang tidak diimunisasi dan terpajan dengan hepatitis B, pencegahan post exposure perlu diberikan kombinasi:
  1. HBIG (Hepatitis B Immune Globulin)
  2. Vaksin Hepatitis B untuk kekebalan jangka panjang dan mengurangi gejala klinis.

Untuk pajanan pada perinatal (bayi yang lahir dari ibu dengan Hepatitis B), segera diberikan HBIG < 24 jam setelah persalinan secara intramuskular di paha.

Imunisasi hepatitis B mampu memberikan perlindungan terhadap infeksi Hepatitis B selama lebih dari 20 tahun. Keberhasilan imunisasi dinilai dari terdeteksinya anti-HBS dalam serum penderita setelah pemberian imunisasi Hepatitis B lengkap.

Tingkat keberhasilan imunisasi ditentukan oleh faktor usia penderita. Lebih dari 95% tingkat kesuksesan imunisasi pada bayi, anak dan remaja, kurang dari 90% pada usia 40 tahun, dan hanya 65-70% pada usia 60 tahun. Penderita dengan gangguan sistem imun, memberikan respon kekebalan yang lebih rendah.

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon