Tuesday, March 27, 2018

Bagaimana Cara Mengatasi Diare Dengan Tepat ?


Halloo sobat..

Hampir semua orang pasti pernah mengalami diare, termasuk saya.

Tau gak..! kalau diare adalah sesuatu paling cepat di dunia, bahkan lebih cepat dari cahaya. Bagaimana tidak cepat, orang yang diare mau ke kamar mandi dan membuka celana, tetapi sudah keluar duluan. heeee

Itulah diare, sangat merepotkan. Apalagi kalau pas lagi kerja, lagi maen, atau lagi ada acara tertentu.

Pokoknya kalau lagi diare harus cepat ditangani, walaupun kelihatannya sepele, sebenarnya diare adalah penyakit yang sangat berbahaya. Terutama diare yang terjadi pada anak.

Berdasarkan data WHO sekitar 6 juta anak meninggal setiap tahunnya karena diare. Kebanyakan kasus tersebut terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Apa sih diare itu?


Diare adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair, dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari.
Penyakit diare sudah familiar, hampir semua orang tau apa itu diare, banyak juga masyarakat yang menyebut diare dengan mencret.

Penyebab diare


Diare merupakan kumpulan dari gejala infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bermacam organisme seperti bakteri, virus dan parasit.

Organisme tersebut biasanya menginfeksi saluran pencernaan melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh organisme tersebut (food borne disease).

Organisme penyebab diare biasanya berbentuk renik dan mampu menimbulkan diare yang dapat dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan gejala klinisnya.

1. Diare cair akut
Balita akan kehilangan cairan tubuh dalam jumlah yang besar sehingga mampu menyebabkan dehidrasi dalam waktu yang cepat.

2. Diare akut berdarah (disentri)
Diare ini ditandai dengan adanya darah dalam tinja yang disebabkan akibat kerusakan usus. Balita yang menderita diare berdarah akan menyebabkan kehilangan zat gizi yang berdampak pada penurunan status gizi.

3. Diare persisten
Dimana kejadian diare dapat berlangsung ≥14 hari. Diare jenis ini sering terjadi pada anak dengan status gizi rendah, AIDS, dan anak dalam kondisi infeksi (WHO, 2010).

Beberapa jenis diare tersebut sering disebabkan oleh organisme renik seperti bakteri dan virus. Bakteri patogen seperti E.coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella dan Vibrio cholera merupakan beberapa contoh bakteri patogen yang menyebabkan epidemi diare pada anak.

Diare cair pada anak sebagian besar disebabkan oleh infeksi rotavirus , V. cholera dan E.coli. Diare berdarah paling sering disebabkan oleh Shigela (UNICEF dan WHO, 2009). Sedangkan diare cair akut pada anak di bawah lima tahun paling banyak disebabkan oleh infeksi rotavirus.

Penanganan diare


1. Berikan oralit

Salah satu dampak paling berbahaya dari diare adalah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Untuk mencegah dehidrasi dapat dilakukan dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang.

Oralit adalah cairan terbaik untuk diare sebagai penganti cairan yang hilang. Saat ini oralit yang beredar di pasaran adalah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.

Penderita diare yang tidak bisa minum oralit harus segera dibawa ke puskesmas, klinik atau rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dengan cairan infus sehingga tidak terjadi dehidrasi.

Derajat dehidrasi pada diare

a. Diare tanpa dehidrasi
Penderita diare tanpa dehidrasi memiliki tanda sebagai berikut.
  • Keadaan umum baik
  • Mata normal
  • Rasa haus normal, minum biasa
  • Turgor kulit kembali cepat

Dosis oralit untuk penderita diare tanpa dehidrasi
  • Umur < 1 tahun : ¼-½ gelas setiap kali anak mencret
  • Umur 1-4 tahun : ½-1 gelas setiap kali anak mencret
  • Umur diatas 5 Tahun : 1-1½ gelas setiap kali anak mencret

b. Diare dehidrasi ringan
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan:
  • Keadaan Umum gelisah dan rewel
  • Mata cekung
  • Rasa haus, ingin minum banyak
  • Turgor kulit kembali lambat

Berikan oralit dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb. Selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

c. Diare dehidrasi berat
Diare dehidrasi berat ditandai dengan:
  • Keadaan umum lesu, lunglai, atau tidak sadar
  • Mata cekung
  • Tidak bisa minum atau malas minum
  • Turgor kulit kembali sangat lambat, lebih dari 2 detik

Segera bawa ke puskesmas, klinik atau rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

2. Berikan obat Zinc

Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare.

Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.(Black, 2003).

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 % (Hidayat 1998 dan Soenarto 2007).

Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.

Dosis pemberian Zinc
  • Umur < 6 bulan : ½ tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari
  • Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.

Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.

Cara pemberian tablet zinc dengan melarutkan tablet Zinc dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare.

3. Pemberian ASI atau makanan

Tetap berikan ASI jika terjadi pada bayi, pada anak-anak dan orang dewasa tetap berikan makanan untuk memberikan gizi dan mencegah berkurangnya berat badan.

Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering.

Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.

4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi

Untuk pengobatan menggunakan antibiotik disesuaikan dengan penyebabnya.

Cara mencegah diare


Agar terhindar dari diare, hal yang paling utama adalah menghindari makanan dan minuman yang tidak bersih. Anak-anak jangan jajan sembarangan, kalau sekolah lebih baik bawa bekal dari rumah, selain bersih tentu saja lebih sehat.

Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum makan dan sesudah buang air besar juga harus dilakukan. Selain itu rebus air minum sebelum dikonsumsi. Gunakan air bersih untuk memasak dan buang air besar di jamban.

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon