Sunday, October 1, 2017

Pemberian Obat Pada Ibu Hamil dan Menyusui

pemberian obat pada ibu hamil dan menyusui

Ibu hamil yang menggunakan obat memerlukan pertimbangan sangat khusus karena risiko yang ditimbulkan tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi pada janin yang dikandungnya. Risiko yang paling dikhawatirkan adalah timbulnya kecacatan pada bayi, baik berupa cacat fisik maupun cacat fungsional. Oleh karena itu penggunaan obat pada ibu hamil memerlukan pertimbangan apakah manfaat penggunaan obat lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan, sehingga ibu dan janinnya bisa melalui proses kelahiran yang lancar dan sehat.

Tidak ada obat yang mutlak aman untuk ibu hamil, obat bisa menimbulkan efek teratogenik berupa kecacatan fisik dan juga pertumbuhan yang terganggu, karsinogenesis, gangguan fungsional atau mutagenesis.

Diperkirakan ada sekitar 3% kecacatan janin akibat obat dari seluruh kelahiran cacat. Risiko paling tinggi untuk menimbulkan efek teratogenik terjadi pada masa trisemester I, lebih tepatnya minggu ketiga sampai minggu ke delapan dimana sebagian besar organ utama dibentuk setelah minggu kedelapan jarang terjadi anomali struktur karena organ utama sudah terbentuk dalam fase ini. Kecacatan fungsional terjadi pada trisemester II dan III, seperti pada penggunaan obat ACE inhibitor yang menyebabkan hipotensi pada janin

Obat yang diberikan kepada wanita hamil umumnya dapat melalui plasenta. Transfer obat melalui membran plasenta terjadi secara difusi pasif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transfer ini adalah:
  • konsentrasi obat dalam darah ibu
  • aliran darah plasenta
  • sifat fisiokimia obat (berat molekul rendah, obat yang larut dalam lemak, non-polar, dan tidak terionisasi akan lebih mudah melewati membran plasenta), hanya obat yang berada dalam bentuk bebas dari ikatan protein yang dapat melewati membran plasenta.

Penggolongan tingkat keamanan penggunaan obat pada wanita hamil berdasrkan FDA Amerika Serikat yang banyak dijadikan acuan dalam mempertimbangkan pengggunaan dalam pengobatan yaitu:
  • Kategori A, penelitian terkontrol menunjukkan tidak ada resiko. Penelitian terkontrol dan memadai pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya resiko pada janin.
  • Kategori B, tidak ada bukti resiko pada manusia. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya resiko tetapi penelitian pada manusia belum memadai.
  • Kategori C, resiko tidak dapat dikesampingkan. Penelitian pada manusia tidak memadai, penelitian pada hewan menunjukkan resiko atau tidak memadai.
  • Kategori D, resiko pada janin terbukti positif, baik melalui penelitian atau post-merketing study
  • Kategori X, kontra indikasi pada kehamilan. Penelitian pada hewan atau manusia, atau data post marketing study menunjukkan adanya resiko pada janin yang secara jelas merugikan dibandingkan manfaatnya.

Golongan antibiotika berdasarkan keamanan dan toksisitasnya pada ibu atau janin

Golongan antihipertensi berdasarkan keamanan dan toksisitasnya pada ibu dan janin

Prinsip peggunaan obat pada masa kehamilan

  • Sedapat mungkin hindari menggunakan obat terutama pada trsmester pertama kehamilan upayakan terapi non farmakologi
  • Obat hanya diberikan jika jelas diperlukan dengan mempertimbangkan manfaat dan resikonya
  • Hindari obat baru karena datanya masih terbatas
  • Pilih obat dengan profil keamanannya yang sudah diketahui
  • Utamakan monoterapy
  • Gunakan dengan dosis efektif yang terendah tetapi perlu juga diingat bahwa perubahan fisiologis ibu selama kehamilan mengubah farmakokinetika obat sehingga pada beberapa obat mungkin perlu peningkatan dosis untuk memeprtahankan kadar terapeutiknya
  • Gunakan obat dengan durasi sesingkat mungkin
  • Hindari obat yang bersifat teratogen pada wanita usia produktif
  • Jika obat yang digunakan diduga kuat dapat menyebabkan kecacatan maka lakukan USG

Penggunaan obat herbal pada masa kehamilan Penggunaan obat herbal semakin meningkat pesat dibanyak negara didunia. Dibanyak negara obat herbal peraturannya tidak seketat obat sehingga pemantauan efek sampingnya pun tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Tambahan pula tidak banyak laporan efek sampingnya yang dipublikasikan, akibatnya sulit untuk mendapatkan informasi mengenai efek samping obat herbal, khususnya pada penggunaan selama kehamilan.

Kita mungkin menganggap obat herbal adalah produk “alamiah” sehingga bebas dari resiko efek samping, namun kenyataannya penggunaan obat herbal pada masa kehamilan tidak sepenuhnya bebas dari resiko baik terhadap ibu maupun janin. Meskipun hubungan sebab-akibat dari laporan kasus yang dipublikasikan masih belum dapat dipastikan, sebaiknya kita waspada dan menganggap bahwa penggunaan obat herbal dikontraindikasikan selama kehamilan.

Penggunaan obat masa menyusui 

Obat hanya digunakan jika diperlukan dan pengobatan tidak dapat ditunda. Faktor yang harus diperhatikan :
  • Pemilihan obat
    • Pertimbangkan apakah obat dapat diberikan secara langsung dengan aman pada bayi
    • Pilih obat yang sedikit melalui ASI dengan memprediksikan ratio-M/P paling rendah.
    • Hindari formulasi obat yang long action (misalnya sustained release)
    • Pertimbangkan rute pemberian obat yang dapat menurunkan ekskresi obat kedalam ASI
    • Jika memungkinkan hindari penggunaan jangka lama 
  • Waktu menyusui
    • Hindari menyusui selama konsentrasi obat mencapai pncak plasmanya.
    • Jika memungkinkan rencanakan menyusui sebelum pemberian dosis obat berikutnya
  • Pertimbangan lain
    • Selalu mengamati bayi terhadap tanda-tanda yang tidak biasa atau gejala kliniknya (seperti : sedasi, iritasi,rash, menurunkan nafsu makan, kesukaran menelan)
    • Tidak melanjutkan menyusui selama terapi obat jika resiko terhadap bayi lebih berat.
    • Berikan pengetahuan yang cukup kepada pasien untuk meningkatkan pemahaman terhadap factor-factor yang beresiko.

Sumber: ISO Indonesia

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon