Monday, October 2, 2017

Bagaimana Cara Membedakan Fakta dan Opini

Bagaimana Cara Membedakan Fakta dan Opini

Dunia informasi di Indonesia belakangan ini semakin amburadul, banyak sumber berita yang tidak memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat justru malah menyesatkan. Selain karena faktor ekonomi mereka menggunakan berita yang menyesatkan untuk tujuan tertentu seperti politik.

Salah satu berita yang menyesatkan belakangan ini adalah berita tentang meletusnya gunung Agung di Bali. Semua orang sudah panik mendengar berita tersebut, nyatanya berita itu adalah berita palsu, atau tidak benar, atau lebih dikenal dengan sebutan hoax.

Berita semacam itu sangat meresahkan sekali, sebenarnya bukan isi berita tetapi lebih kepada apakah berita itu benar atau tidak. Atau dalam istilah lain apakah berita itu fakta atau opini.
Fakta adalah deskripsi dari apa yang dilihat, didengar atau dirasakan secara langsung. Fakta tidak berisi pendapat atau pandangan seseorang tentang sesuatu. Opini adalah pendapat, ide, pikiran seseorang tentang sebuah isu, kejadian atau peristiwa.
Untuk itu, sumber sebuah berita sangat penting. Sebagai pembaca kita harus mengenali sumber berita, hal ini bisa menjadi tanda apakah sumber tersebut sering memberikan informasi yang benar atau hanya hoax. Saya sendiri mendapati bahwa sumber berita tertentu sering memberikan informasi yang menyesatkan sehingga saya lebih memilih sumber berita lain yang menurut saya benar.

Bagaimana cara membedakan berita opini atau fakta? tidak ada hal yang secara spesifik untuk membedakan opini dan fakta, cara paling mudah adalah dengan memahami definisinya. Selain itu tingkat pengetahuan seseorang juga sangat berpengaruh dalam membedakan antara berita opini dan fakta.

Contoh berita berisi fakta:
Terjadi bentrokan di depan gedung MPR antara petugas keamanan dan para pelaku demonstrasi pada jam 16.34-18.35 WIB. Sampai tengah malam, menurut X seorang pegawai rumah sakit Jakarta tercatat 5 orang pelaku demonstrasi dan 2 orang petugas keamanan dirawat di rumah sakit tersebut. Kejadian tersebut mengakibatkan arus lalu lintas di sekitar kejadian terhambat dan terlihat 20 petugas yang berjaga-jaga di sekitar kejadian.

Contoh berita yang dikaburkan oleh opini:
Terjadi bentrokan hebat di depan gedung MPR antara petugas keamanan dan para pelaku demonstrasi pada saat lalu lintas sangat ramai. bentrokan tersebut menimbulkan banyak korban baik dari pelaku demonstrasi maupun petugas keamanan. Tidak ada yang dapat dimintai keterangan mengenai jumlah pasti korban. Kejadian tersebut juga mengakibatkan kemacetan luar biasa dan suasana mencekam di sekitar kejadian.

Mencari informasi dari manapun tidak masalah, namun dengan banyaknya berita palsu atau hoax sebaiknya kita lebih berhati-hati. Apalagi untuk menyebar berita tersebut, menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya bisa membahayan orang lain. Kita sebagai konsumen informasi harus mampu menyeleksi, mengevaluasi, dan menilai media dan isinya.

Fakta dan opini sebenarnya bukan masalah, semua orang bebar mengatakan fakta dan opini namun antara keduanya harus jelas. Saat ini marak berita atau kabar yang mengaburkan fakta dengan opini, hal ini yang harus diwaspadai, karena dampaknya sangat luar biasa, bisa mengganggu ketentraman masyarakat, dan juga negara.

Sumber: KOMINFO, "Saatnya Kita Melek Media"

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon