Friday, September 1, 2017

Pengalaman Membeli Sepatu Dengan Tawar Menawar

Pengalaman Membeli Sepatu Dengan Tawar Menawar

Pagi itu saya diajak adek saya, Bajel untuk menemani membeli sepatu, celana panjang, dan kemeja. Saya dan  bajel adalah laki-laki yang tak pandai menawar barang, haaaa. karena kelebihan itu akhirnya kami memutuskan untuk membeli barang di Matahari. Menurut saya lebih mudah membeli barang yang sudah memiliki label harga, tidak harus tawar menawar lagi.

Di Matahari yang pertama kami cari adalah sepatu, setelah keliling-keliling  mencari sepatu yang tepat, akhirnya ketemu juga. tetapi setelah dilihat harganya, sepatu yang dipilih harganya bikin waw... menurut saya wajar aja harganya mahal, sepatu yang kami pilih memang bermerek, dan kualitasnya bagus. Melihat dompet, akhirnya pembelian sepatu digagalkan, alias isi dompet mepet, bisa-bisa gak kebeli celana sama kemeja.

Membeli sepatu pun diurungkan, kami naik ke lantai dua dan memilih celana panjang dan kemeja. Celana dasar pilihan pertama harganya murah, kualitas standar, model juga suka tetapi kurang sreg. kalau menurut saya beli pakaian kalau gak cocok bener mending gak usah dibeli, bisa-bisa cuma disimpen dilemari alias males mau pake. Setelah liat-liat yang lain ketemu juga yang dicari, harganya memang lebih mahal, tetapi sesuai dengan keinginan. Lanjut beli baju, lagi-lagi masalah dompet, ada yang bagus dan cock banget, sesuai selera tetapi harganya mahal. Kemudian kami cari yang kualitas bagus harga standar, kami tidak menemukan yang cocok. Saya tetep berpedoman cari yang cocok walau agak mahal, biar suka makenya, dan gak jadi sampah lemari.

Pelayanan waktu belanja celana dan kemeja sangat puas, tidak cuek, pokoknya belanjanya nyaman. Sekarang waktunya cari sepatu, karena duitnya mepet kami pilih yang bisa tawar menawar. Disinilah cerita serunya.. saya lelaki yang tak pandai menawar memberanikan diri menawar demi memperoleh sepatu yang miring harganya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya memutuskan ke daerah simpur, kayaknya banyak toko sepatu. Sesampainya disana kami menuju salah satu toko, setelah melihat-lihat adek saya menemukan sepatu yang dicari, merknya pakalolo, sayang warnanya cokelat.

Lalu bajel menanyakan sepatu warna hitam, apakah ada yang berwarna hitam. Si penjual bilang gak ada, dan memaksa kami untuk memilih warna cokelat. Karena memang tidak suka warna coklat, bajel kekeh meminta warna hitam. Akhirnya penjual mencarikan sepatu yang warna hitam di toko lain. Sepatu warna hitam yang kami cari pun ada, tetapi ukurannya kebesaran.

Dan lucunya penjual mengatakan bahwa sepatu itu pas, dan akhirnya penjual memasang alas sepatu dobel sehingga sepatunya menjadi pas. Waktu mau mencoba alas kaki tersebut tidak boleh dilepas, alasannya biar gak kotor. Ini penjual maksa bener, licik lagi. Adek saya merasa kurang srek dengan sepatunya, karena ukurannya kebesaran. Yang menjadi kesalahan pertama adalah walaupun sepatunya kurang pas, adek saya tetap menawar sepatu tersebut.

Ternyata harga sepatu tersebut 500 ribuan, sementara adek saya menyediakan budget 300 ribuan. Saya waktu itu langsung keluar toko, agar adik saya mengagalkan sepatu tersebut. Adek saya menawar sepatu 300 ribu, penjual menurunkan harga sampai 350 ribu. Wah.. ternyata turunnya banyak juga ya.. Penjual makin agak marah dan sedikit memaksa untuk membeli sepatu tersebut. Karena memang ukurannya gak pas dan penjualnya reseh, saya langsung angkat kaki seribu. Akhirnya adek saya ikut ambil langkah seribu dan tidak membeli sepatu tersebut.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah pilih sepatu yang cocok dulu, pokoknya jangan menawar sepatu yang gak cocok. Kalu gak ada yang cocok langsung cabut aja, kecuali penjualnya ramah dan memang memberikan pilihan sepatu yang cocok dengan kita. Entah itu ukuran sepatu, warna, model, dan merek kalau gak sesuai mendingan gak usah nawar. Kalau sudah ada yang cocok baru tawar menawar, ternyata tawar menawar harus berani, kalau harga 200 ribu tawar saja 75 ribu.

Membeli barang dengan tawar menawar memang butuh perjuangan, kalau saya lebih suka beli ditoko yang sudah diberi harga jual tetap.

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon