Monday, September 18, 2017

HIV dan AIDS - Gejala, Pengobatan, Pencegahan

Tags

HIV dan AIDS - Gejala, Pengobatan, Pencegahan

Definisi HIV 

HIV (Human Immunodeficency Virus) adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh. Setiap orang mempunyai sel darah putih pada tubuhnya, sel tersebut berfungsi untuk melawan dan membunuh kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh, sehingga tidak jatuh sakit. Itu adalah system kekebalan atau biasa disebut daya tahan tubuh.

Definisi AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala akibat berkurangnya kekebalan tubuh. Jadi dapat dijelaskan bahwa AIDS merupakan gejala-gejala penyakit yang diakibatkan rusaknya kekebalan tubuh seseorang karena serangan virus HIV.

Hilangnya kekebalan tubuh pada seseorang menyebabkan segala macam penyakit mudah menyerang. Serangan virus influenza yang bagi orang sehat dapat sembuh sendiri tanpa diobati karena system kekebalan tubuhnya kuat. Namun tidak demikian pada orang dengan AIDS, Influenza akan berlangsung lama dan tidak dapat sembuh sendiri karena kekebalan tubuhnya sudah rusak. Orang dengan AIDS biasanya memiliki gejala infeksi sistemik berupa demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, lemah dan pembengkakan kelenjar.
Jadi HIV bukanlah suatu penyakit, tetapi sebuah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia dan AIDS merupakan kumpulan gejala akibat infeksi HIV

Cara Penularan HIV

HIV masuk kedalam tubuh melalui aliran darah. Jika berada diluar tubuh manusia HIV akan cepat mati, kecuali virus tersebut ada pada darah yang belum kering. HIV terdapat dalam cairan tubuh manusia yaitu: darah, cairan kelamin, dan ASI. Ketiga cairan tersebut terbukti dapat menularkaan HIV.

Seseorang dapat tertular HIV jika terjadi kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV dapat terjadi dengan berbagai cara, yaitu:
  • Melalui hubungan seksual 
  • Melalui darah, seperti penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah, darah ibu ke bayi yang dikandung, dan penggunaan benda tajam yang mengandung HIV seperti alat cukur, alat tindik, dan jarum akupuntur.
  • Melalui ASI 

Hal yang tidak menularkan HIV

HIV hanya mampu bertahan lama pada darah yang belum kering, jika berada diluar tubuh virus tersebut mudah mati, sehingga HIV tidak dapat ditularkan melalui kegiatan sehari-hari seperti berikut ini.
  • Bersalaman atau berjabat tangan
  • Menyentuh atau bersenggolan
  • Melalui batuk atau bersin
  • Menggunakan peralatan makan bersama
  • Menggunakan kamar mandi bersama
  • Berenang bersama
  • Gigitan nyamuk
  • Tinggal serumah 
Memang HIV sangat mengerikan, oleh karena itu banyak orang yang paranoid terhadap orang yang terserang HIV. Tetapi perlu diketahui bahwa HIV tidak ditularkan melalui kegiatan sehari-hari di atas. Cairan tubuh yang dapat menularkan HIV adalah darah, ASI dan cairan Kelamin. Keringat, air liur, air seni, tinja, dan gigitan nyamuk tidak bisa menularkan HIV.

Proses terjadinya AIDS

Seseorang yang terinfeksi HIV tidak dengan tiba-tiba berubah menjadi AIDS. Perlu proses dari terinfeksi HIV hingga timbul AIDS, secar singkat dapat dibagi menjadi 4 stadium.
  • Stadium 1 – window period Adalah stadium yang terjadi sejak pertama masuknya HIV yang diikuti perubahan serologis pada darah hingga tes antibody terhadap HIV dinyatakan positif. Tidak ada gejala khusus, biasanya dalam beberapa hari atau minggu orang tersebut mengalami gejala flu seperti demam, lemas, baatuk, nyeri tenggorokkan, dan nyeri sendi. Gejala ini akan hilang dengan sendiri tanpa pengobatan. Pada stadium ini jika dilakukan tes darah HIV hasilnya kemungkinan negtif karena antibody HIV belum terdeteksi dalam darah. Stadium 1 terjadi Selma 1 sampai 3 bulan, bahkan hingga 6 bulan. Walaupun tes darah HIV menunjukkan hasil negative, tetapi sudah dapap menularkan HIV. 
  • Stadium 2 – Asimtomatik Orang yang terinfeksi HIV pada stadium ini masih terlihat sehat, tidak ada gejala yang dirasakan walaupun sebenarnya HIV sudah berkembang biak. Pemeriksaan darah untuk HIV menunjukkan hasil positif. Stadium ini berlngsung 5 smpaai 10 tahun 
  • Stadium 3 – Muncul gejala Penderita mengalami penurunan system kekebalan tubuh, mulai muncul gejala seperti diare kronis, sakit flu terus-menerus, pembesaran kelenjar getaah bening secra tetap dan merata yang berlaangsung lebih dari satu bulan. 
  • Stadium 4 – kondisi AIDS Sistem kekebalan tubuh sudah rusak sehingga segala macam penyakit mudah menyerang. Stadium ini ditandai dengan timbulnya bermacam-macam penyakit seperti kandidiasis pada saluran nafas, toksoplasm pada otak, sarcoma Kaposi, dan kanker. 

Penyakit pada orang dengan AIDS

Orang yang terinfeksi HIV hingga menjadi AIDS akan sering ditemukan beberapa penyakit tertentu. Hal ini terjadi karena system kekebalan tubuh sudah rusak parah, sehingga segala macam penykit akan mudah menyerang. Jenis penykit yng sering ditemukan pada oraang dengan AIDS adalah:
  • Penyakit paru-paru utama
    • Pneumonia pneumocystis (PCP)
    • Tuberkulosis (TBC)
  • Penyakit saluran pencernaan utama
    • Esofagitis
    • Diare kronis
  • Penyakit syaraf dan kejiwaan utama
    • Toksoplasmosis
    • Meningitis kriptokokal
    • Leukoensefalopati multifokal progresif
    • Kompleks demensia AIDS
    • Kerusakan syaraf yang spesifik
  • Kanker tumor ganas
    • Sarkoma Kaposi
    • Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B)
    • Limfoma sistem syaraf pusat primer
    • Kanker leher Rahim
    • Limfoma Hodgkin
    • Kanker usus besar bawah
    • Kanker anus
  • Infeksi oportunistik lainnya
    • Infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan.
    • Infeksi jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis. 

Cara mengenali penderita HIV

Sulit untuk mengenali orang yang terinveksi HIV kecuali sudah masuk dalam kondisi AIDS. Penderita HIV yang belum menjadi AIDS tidak dapat dikenali dengan kasat mata karena orang tersebut terlihat seperto orang sehat. Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV harus dilakukan tes darah. Bukti bahwa terdapat HIV dalam darah adalah adanya zat antibody HIV dalam darah, tes ini disebut tes anti-body HIV atau tes HIV

Pengobatan HIV 

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV, obat yng diberikan hanya untuk menghambat perkembangn HIV, obat tersebut adalah obat antiretroviral (ARV).

Pengobatan ARV secara kombinasi dengan dosis dan cara yang benar bisa membuat jumlah HIV mejadi sedikit, bahkan tidak terdeteksi lagi. Walaupun sudah tidak terdeteksi pemberian ARV tidak boleh berhenti karena jika dihentikan dalam jangka waktu dua bulan penderita HIV akan kembali ke kondisi sebelum pemberian ARV.

Bayak orang yang gagal dalam terapi ARV, tidak patuh dan teratur menerapkan terapi ARV adalah faktor yang paling utama. Sikap tidak patuh dan teratur dalam pengobatan ARV disebabkan karena:
  • Efek samping tidak bisa ditolerir, seperti: diare, tidak enak badan, mual, dan lelah.
  • Pemberian ARV antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif.
  • Infeksi HIV tertentu yang resisten obat.
  • Tingkat kepatuhan pasien.
  • Kesiapan mental pasien, untuk memulai perawatan awal. 

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun.

Banyak faktor yang memengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat.

Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangan AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

Pencegahan HIV 

Melihat bahaya HIV yang sangat menakutkan, sudah semestinya pencegahan agar tidak tertular harus dilakukan. Jauhi perilaku yang dapat menularkan HIV, memperkut iman dan ikuti norma agama serta adat budaya luhur bangsa. Ada 3 cara pencegahan penularan HIV yaitu:
  • Pencegahan melalui hubungan seksual
    • Abstinence (puasa), yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
    • Be faithful (setia pada pasangan), yaitu jika telah menikah, melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangannya saja.
    • Using condom (menggunakan kondom), yaitu bagi salah satu pasangan suami atau istri yang telah terinfeksi HIV agar tidak menularkan kepada pasangannya.
  • Pencegahan penularan melalui darah
    • Drugs (tidak menggunakan narkoba), karena saat sakaw (gejala putus obat) tidak ada pengguna narkoba yang sadar akan kesterilan jarum suntik, apalagi ada rasa kekompakan untuk memakai jarum suntik yang sama secara bergantian, dan menularkan HIV dari pecandu yang telah terinfeksi kepada pecandu lainnya.
    • Equipment, mewaspadai semua alat-alat tajam yang ditusukkan ke tubuh atau yang dapat melukai kulit, seperti jarum akupuntur, alat tindik, pisau cukur, agar semuanya steril dari HIV lebih dulu sebelum digunakan, atau pakai jarum atau alat baru yang belum pernah digunakan.
    • Mewaspadai darah yang diperlukan untuk transfusi, pastikan telah dites bebas HIV
  • Pencegahan penularan dari ibu kepada anak
  • Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25-45%. Risiko ini semakin besar jika ibu telah masuk ke kondisi AIDS. Risiko dapat diturunkan jika dilakukan:
    • Intervensi berupa pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada ibu selama masa kehamilan (biasanya mulai usia kehamilan 36 minggu)
    • Kemudian ibu melakukan persalinan secara bedah (Caesar).
    • Ibu memberikan susu formula sebagai pengganti ASI, karena ASI ibu yang mengidap HIV mengandung virus (HIV).

Artikel Terkait

Seorang perawat, blogger dan penikmat kopi


EmoticonEmoticon